New Signs*2: Ell'Ma (20 Oktober 2012) - Cerpen Horor

NEW SIGNS*2 ELL'MA (20 OKTOBER 2012)
Karya Avans Cross Lines

Seorang gadis dan seorang pria yang sudah cukup tua saling menggenggam erat diantara ladang basah dan halaman gudang tua. Sekilas aku melihat mereka tampak saling berpelukan erat dan menangis melepas rindu seperti sudah lama sekali terpisahkan. Mereka menangis menderu-deru, berpegang erat di tengah lokasi yang tak pernah aku ketahui.

Ladang itu terlihat berantakan. Gundukan tanah dan rumput liar memenuhi ladang tersebut. Namun di beberapa sudut ladang, tanaman padi tampak rimbun menututupi kolam air yang keruh. Di hadapannya, berdiri sebuah rumah kayu tua yang tampak seperti sebuah gudang peralatan tani. Gudang itu sungguh tua, dengan warna kayu coklat gelap dan di beberapa bagiannya tampak rapuh dan lapuk dipenuhi rayap. Sebuah rantai panjang melilit kedua pintunya yang lebar dan sedikit terbuka.

Aku sedikit heran dengan lantai di depan gudang tersebut. Lantainya sungguh mulus dan mengkilap berwarna abu gelap yang terbuat dari semen. Sebatang tiang besi berkarat tertancap kuat tepat di ujung lantai yang mengarah langsung ke ladang basah setengah meter dibawah lantai tersebut. Di dekat tiang besi itulah tepat seorang gadis dan pria tersebut berpelukan erat.
Aku berdiri cukup jauh dari gudang itu, di samping belakang gadis tersebut hingga aku tak bisa cukup jelas melihat tubuh si pria. Yang terlihat hanyalah wajahnya yang sedang menangis.
Di bawah langit senja, di tengah hembusan angin yang melambaikan rambut mereka di udara. Sejenak kurasakan dalam penglihatanku Slow Motion yang sungguh romantis diantara keduanya. Membuat aku terharu dan menyunggingkan senyum tipis melihat mereka…

Tapi… ada hal yang aneh…
Perlahan, aku bergerak beberapa langkah ke samping. Mencoba melihat posisi pria itu dari sudut lain. Mataku membelalak lebar. What the hell!!!
Pria itu melayang telungkup di udara. Diatas ladang yang basah sembari terus menggenggam erat tangan sang gadis. Aku memperhatikan baik-baik mereka. Tidak! Pria itu bukan melayang melainkan tertarik. Tertarik oleh sesuatu. Mataku bergerak perlahan tertuju pada apa yang ada di ujung ladang tersebut.

Ya tuhan apa itu?!!!
Tampak sebuah dinding menjulang tinggi ke angkasa. Dinding yang sangat luas. Dan dinding tersebut mencoba menarik pria itu. Dinding itu sungguh mengerikan warnanya coklat-merah darah dan banyak sesuatu kecil-kecil menggeliat disana seperti semut di televisi.

Dinding itu mengacaukan gravitasi dan terlihat kentara bahwa ‘itu’ ingin agar pria tersebut jatuh ke dalamnya. Menariknya seperti magnet yang sangat kuat.
“Ayah! Ayah!” teriak sang gadis histeris. Dia terus menarik ayahnya. Menggenggam erat lengannya, kembali kepelukannya.
“Nak, lari-larilah sebelum terlambat. Lepaskan ayah!”
“Tidak! Tidak!”
Mereka terlihat histeris tak ubahnya denganku. Aku tidak mengerti dengan ini semua. Situasinya begitu rumit, sementara aku terus membaca keadaan dan mencoba mengerti situasi tentang apa yang sebenarnya terjadi, mataku terfokus pada mereka dan dinding mengerikan di ujung sana.
Rerumputan, air dan tanah di ladang tersebut berterbangan. Kemudian tersedot gravitasi dinding tersebut. Namun anehnya hanya ladang tersebutlah yang mengalami kekacauan gravitasi sementara halaman gudang berlantai semen tepat berada di hadapan tanah ladang itu tak mengalami hal yang sama. Itulah kenapa gadis tersebut tak tertarik dan kakinya masih menginjak lantai.
Aku masih terpaku di tempatku. 20 meter jaraknya dari mereka. Langit tampak kelam dan ketakutan semakin kentara kurasakan. Ada apa ini?
Teriakan mereka masih berkobar-kobar, meraung-raung menggapai setiap celah ruang dan waktu yang temaram. Mataku tak bisa berkedip memandang mereka. Memandang gadis itu, memandang pria itu dan dinding mengerikan bak lidah neraka itu.

Ya ampun kenapa pria itu!
Syok aku melihatnya. Seluruh Pakaian pria yang sedang dikenakannya terlepas dari badannya dan terlempar ke dinding tersebut. Dalam seketika pakaian itu langsung lenyap. Bukan hanya itu, ada yang lebih mengerikan.

Kaki pria itu memanjang seperti karet yang ditarik. Kemudian, kakinya… daging yang terdapat di bagian pinggang hingga ke ujung kakinya, terlepas dari tulangnya. Udara dan grafitasi yang tak terkendali menyayat dan merobek dagingnya. Darah semburat menyembur bak air mancur kemudian tertarik grafitasi dinding itu bersamaan dengan daging setengah badannya. Kini pria itu melayang dengan setengah badan yang hanya tinggal tulang.
“Ayah sayang kamu, nak,” ucap pria itu sebelum akhirnya mati.
“Tidak!!!!!!!!!!!!!” teriak gadis itu sekencang-kencangnya.
Daging pria itu semakin tertarik. Menyemburkan darah ke wajah gadis tersebut. Gadis itu langsung melepaskan lengan ayahnya yang masih ia genggam. Setengah tubuh pria itu akhirnya jatuh membentur dinding, kemudian sesuatu seperti cacing mengerumuninya dan kemudian lenyap di dinding tersebut.

Gadis tersebut terlihat gila. Teriakannnya tak terkendali, dia terduduk di lantai tersebut sembari melihat darah di lengannya dan dinding yang memakan ayahnya. Tiba-tiba Sesuatu terjadi. Pakaian atas yang sedang dikenakannya tiba-tiba menghilang. Gadis tersebut terkejut. Dia langsung berdiri, rok yang sedang dikenakannya pun raib tak berbekas, dia menengok ke berbagai arah sebelum dia bisa mengerti situasi, tiba-tiba dia tertarik oleh dinding sama yang tiba-tiba muncul di depan gudang tersebut. Sebelum dia bisa berteriak, jutaan makhluk kecil yang menggeliat-geliat di dinding tersebut langsung menggerogoti tubuh gadis tersebut dengan sangat ganas. Mata gadis itu memandang ke arahku sebelum akhirnya matanya pecah dan lenyap ditelan kegelapan.

Tidak!!!
Jantungku seakan berhenti . Kengerian yang lebih dari sangat langsung menghujam pikiranku, batinku. Kiamat! Ini kiamat! Sebelum sempat aku berlari untuk melarikan diri, tiba-tiba tanah yang aku pijak berubah jadi seperti dinding itu. Aku tersungkur dan tergeletak diantara jutaan makhluk berwarna coklat-hitam-merah darah. Dengan sangat cepat tubuhku tercabik, tersayat, teriris, dan robek oleh makhluk yang kini aku tahu apa itu. Itu belut. Bukan cacing. Belut-belut itu menggerogoti seluruh tubuhku tanpa sisa.
Sebelum aku lenyap dan mati, aku sempat melihat wujud seorang gadis kecil, dengan baju merah, dan rambut hitam yang menutupi kepalanya yang tertunduk kedepan. Alma wade…*

*karakter hantu dalam game F.E.A.R

Inspirited by mydream, 20 Oktober 2012

PROFIL PENULIS
Avans Cross Lines lahir di Bandung, 31 Maret 1992. Bagiku mimpi adalah inspirasi terbesarku. Mimpi adalah jembatan yang menghubungkan antara khayalan dan kenyataan dimana aku dapat dengan leluasa menyebrangi garis antara kedua dunia tersebut. Untuk sejenak ikutlah bersamaku dan lihatlah seberapa indah, seram, romantis, lucu, bahagia, maupun menegangkannya jembatan itu.
Fb: kie_light.group@yahoo.com
Blog: avanscrosslines.blogspot.com


Share & Like