Waktu Yang Berharga - Cerpen Remaja

WAKTU YANG BAHAGIA
Karya Endah Ayunda

Entah apa yang terjadi sama hubungan aku dan Rizal, Semakin hari aku semakin gak ngerti sama semua kesibukannya. Gak pernah ada waktu sedikit pun buat aku, sms gak penah di bales, telfon gak pernah di angkat. Kadang jenuh banget!!!

Sore ini aku membuat janji bersama Izal, satu jam, dua jam aku tunggu tetap gak ada batang hidungnya sedikit pun. Uh aku lelah! Dengan perasaan yang kecewa, kesal, dan marah aku memutuskan untuk pulang, dan menenangkan diri sejenak. Gak lama kemudian HP ku berdering, ku lihat layarnya, “Ah males!!” keluh ku dalam hati. Ternyata Izal yang menelfon ku. 1x, 2x dan yang ke-3 terpaksa aku mengangkatnya. “Hallo” sapa ku dengan malasnya. “ kamu dimana sih?? Aku nungguin kamu, tapi kamu malah gak ada!!” dengan suara yang cukup keras izal bicara pada ku, “ di rumah!!” jawab ku cuek, “ Iva.. aku nunggu kamu dari setengah jam yang lalu, tapi kamu kemana? Kamu lupa?” Izal yang ngerasa nunggu lama terus marah-marah dengan seenaknya. “ Kamu bisa gak sih ngomong baik-baik? Kamu baru setengah jam aja udah marah-marah kaya gini. Kamu liat sekarang jam brapa?! Aku nunggu kamu 2 jam tapi kamu gak datang!!!” Aku pun menjelaskan semuanya dengan amarah ku. Rizal hanya terdiam, terlalu lama aku menunggunya bicara, tapi sepatah, dua patah kata tidak terucap sedikit pun dari bibirnya, membuat ku semakin jenuh dan segera mematikan telfon.
 
Aku berbeda sekolah dengan Rizal, cukup jauh jarak sekolah kami. Sepulang sekolah aku bertemu dengan Eji (seorang anak SMP) di rumah baca tempat faforit ku untuk membaca buku-buku kesukaan ku, aku pun menjadi pengurus di rumah baca tersebut bersama ke-4 teman ku yang lain, pemilik rumah baca ini adalah seorang kakek paruh baya yang mempunyai ambisi besar untuk membuat anak-anak nyaman membaca, dan membaca adalah suatu kebutuhan bagi mereka. Kami biasa memanggil kakek dengan sebutan Opa.

Menurut ku Eji adalah seorang anak yang ramah dan menyenangkan, walau masih kelas 3 SMP tapi kedewasaan dan cara berfikirnya melebihi anak seumurannya. Eji sering sekali datang kemari, dengan membawa motor tigernya, Ya aku tahu harusnya anak seusia dia belum boleh membawa kendaraan.
“ kak.. ada buku baru gak??” Tanya Eji pada ku saat sedang merapikan dan menyusun buku di rak. “ emph.. aku gak tau deh ji, coba aja kamu Tanya ke Randi, soalnya dia bagian pemasukan.” Aku pun kembali merapikan buku-buku tadi. “oke lah.. thax ya kak. Aku ke Randi dulu.”

Hari ini aku membantu Opa merapikan buku, cukup melelahkan, karena Lina dan Ve gak datang hari ini.
Pukul 18:12 aku pamit pulang kepada Opa karena hari sudah sore. Ketika ku keluar, aku melihat Eji sedang duduk di jok motornya sambil memainkan HP. “ Ji.. kamu masih disini? Ngapain? Kan kalo hari Rabu Cuma sampe jam 5.” Sapa ku pada Eji. “eh kak Iva.. aku nungguin kakak, aku gak tega aja liat kakak abis beresin buku segitu banyaknya eh pulang jalan kaki. Lagian takut kakak pulang kemaleman” Aku tersenyum mendengar serangkaian kalimat dari bibir Eji. “ idii… biasa aja ah, lagian belum terlalu malem dhe, jadi kakak juga bisa pulang sendiri” “ udah cepet naik! biasanya aja nebeng!!!” dengan mengerutkan alis aku menaiki motor Eji.

Sampai di rumah aku melihat motor Ijal terparkir di halaman rumah ku. Aku tau Ijal menunggu ku sedari tadi. “ Va.. kamu di anterin siapa? Kok baru pulang?” aku hanya menatap Ijal dan kemudian merebahkan tubuh di sofa. “ Va.. kok kamu gak jawab? Kamu masih marah?!” Aku pun brusaha mengalihkan pembicaraan karena tidak mau mengingat-ingat kejadian kemarin, yang hanya membuat ku kesal. “ Kamu udah lama disini?” “ Cukup lama!! Oya,, tadi siapa?” Ijal kembali menanyakan tentang Eji. “ Aku capek! Aku mau mandi terus istirahat. Dan aku tau kamu pasti lebih capek dari aku, mending kamu juga istirahat. Oke..” Ijal seperti kecewa dengan ku karena tidak mempedulikan pertanyaanya. “ kamu ngusir? Yadah aku pulang.” Akhirnya Ijal memutuskan untuk pulang. Dan aku pun segera berjalan menuju kamar.
***

Hari ini aku sangat lelah membuat ku malas bepergian dan langsung pulang menuju rumah. Sepulang sekolah aku tertidur dan tersadar pada pukul 19:00. aku melihat HP ku, terdapat 5 misscall, dan 3 pesan masuk. Ke-3 pesan tersebut dari Ijal dan semua miscall dari nomor yang tidak aku kenal. Aku segera menghubungi no tersebut, 3x nada sambung berbunyi, terdengar suara seorang lelaki mengangkat telfon ku. “ hallo” sapa lelaki itu. “ Hallo.. sory ni siapa yah?? Tadi ada 5 misscall dari no ini.” Aku pun membalas sapanya dan memulai bicara. “oh.. iya, aku telfon kakak, kok tadi gak ke rumah baca?.” Aku heran dengan lelaki diseberang sana.. “ kakak gak kenal aku? Aku Eji kak” oh.. ternyata, “ Oh kamu Ji, kirain siapa. Kok tau no kakak? Iya nii kakak tadi gak ke rumah Opa, abis capek banget. Ni aja baru bangun tidur.”

Cukup lama kami berbicara, setelah setengah jam telfon pun terputus karena pulsa ku habis, Tapi gak lama kemudian Eji balik telfon, membuat kami lupa waktu, dan saat telfon ke-2 terputus sudah pukul 21:05 .
Dengan semangat ku menyambut hari ini, berharap ada ke ajaiban dalam diri Ijal yang seolah tidak mempedulikan ku akhir-akhir ini. Ketika ku membuka gerbang rumah, mata ku terbelalak melihat Eji sudah ada di depan rumah dengan motor Tigernya. “ Ngapain kamu, pagi-pagi udah nongkrong di depan rumah orang?” Tanya ku heran “ Siapa yang nongkrong, aku mau anter kakak sekolah, kan satu arah. Udah gak usah nolak! Lumayan gratisan.” Aku pun tersenyum akan apa yang Eji ucapkan, “ heh.. kamu pikir, aku gak punya duit buat bayar angkot!!” Eji pun membalas ucapan ku “ hari gene naek angkot.. Panas !!! ( sambil mengibas-ngibaskan tangannya)” aku tergelitik melihat tingkah Eji, “ sok banget kamu!!”, Akhirnya aku pun menaiki motor Eji. Rumah kami memang tidak terlalu jauh, dan kebetulan sekolah kami pun berdekatan, Jaji lumayan, apa lagi kalo dapet tumpangan tiap hari, itung-itung irit ongkos. Haha

Pulang sekolah Eji sudah terlihat berada di sebrang sekolah ku, kami akan menuju rumah baca bersama hari ini, karena Opa meminta ku kesana tepat waktu, mungkin ada serangkaian hadian untuk ku, (haha,, berharap!!!). “ Lama banget sih!!!” gerutu Eji yang sekitar setengah jam lalu sudah menunggu. “ Salah sendiri kenapa mau jemput segala.” Jawab ku cuek, seolah tidak peduli. Sekitar 15 menit perjalanan kami menuju rumah baca. Opa sudah menunggu, kami rupanya. Gak lama setelah aku duduk di tempat kami biasa berkumpul, Opa pun memulai pembicaraanya, “ nahh udah lengkap semuanya, opa Cuma mau sampein kalo anggota pengurusnya jadi tambah 1, yaitu Eji, soalnya Opa liat, Eji juga aktif di sini, nah mungkin ada beberapa penugasan yang yang berbeda, Ve dan Lina tetap bagian penempatan buku, Randi dan Jil mendata pemasukan buku, Cici tetap bagian administrasi, nah Iva sama Eji kalian bagian promosi, Opa akan ajari kalian membuat pamphlet, dan bertugas menempelkannya di tempat ramai, memang lebih capek dari yang lain tapi upah kalian Opa tambah.” Aku setuju-setuju saja dengan apa yang Opa perintahkan, dan yang lainnya pun stuju. Sebelum kami pulang Opa memberi pesan pada ku, agar membantu Eji dalam kegiatan barunya ini. Dengan senang hati aku mendengarkan pesan Opa.
***

Ijal memberi ku kabar bahwa ia akan melakukan studi banding dengan sekolah lain yang berada di Bali, Karena sudah memasuki masa liburan sekolah jadi mereka memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan tersebut. Berhubung ia ketua OSIS jadi ia dan serangkaian anggota OSIS yang lain pergi ke Bali selama 1 Minggu. Aku tau apa maksud Ijal,. Jadi ia akan benar-benar sibuk untuk beberapa hari kedepan, ya.. aku mengerti itu.

Hari ini hari pertama aku menghabiskan liburan sekolah. Seperti biasa, aku menghabiskan serangkaian aktivitasku bersama teman-teman di rumah baca, dan hari ini adalah hari petama ku, untuk membuat pamphlet, tidak terlalu sulit cara membuatnya. Dan Eji pun cepat tangkap dengan apa yang Opa ajarkan. Ya aku tau Eji anak yang pintar.

2 hari kami membuat tugas pamphlet, hari ke dua untuk mengcopy pamphlet-pamphlet yang sudah tersusun rapi. Di susul hari-hari selanjutnya aku bersama Eji menempel kertas-kertas pamphlet tersebut. Di bawah trik matahari kami menghabiskan waktu bersama, dengan canda tawa semuanya terasa menyenangkan. Dan aku merasa nyaman dengan Eji, walau umurnya lebih muda satu tahun dengan ku.

Di berbagai kesempatan Eji selalu ingin menggandeng tangan ku, membuat ku merasa aman dan terlindungi. Karena hari ini sangat panas, kami memutuskan untuk mencari sebuah kafe yang asri di pinggiran kota. Ketika aku dan Eji sedang menikmati lelah, Eji menggenggam jemari ku, Dengan heran aku menatapnya, dan berusaha membaca serangkaian ucapan dalam matanya. Tiba-tiba bibir Eji mengucapkan satu kalimat singkat yang membuat aku terperangah mendengarnya, “ aku sayang kamu va” seperti lelaki dewasa yang mengucapkan serangkaian kalimat tersebut,. “ Aku tau Va,, kamu udah punya cowok. Mungkin aku Cuma sekedar anak kecil dalam hidup kamu, tapi aku tau kamu nyaman sama aku. Yang aku gak tau, apa kamu punya rasa yang sama kaya aku?” Aku hanya diam, Aku merasa nyaman saat Eji dekat dengan ku, kenyamanan yang sempat hilang dari hidup ku bersama Ijal. Aku gak tau rasa apa yang aku punya buat Eji, tapi aku masih berharap Ijal mengakhiri kesibukannya untuk aku. Entah apa yang mendorong ku untuk berkata YA saat ini. Yang pasti aku ngeduain Ijal dengan jawaban YA untuk Eji.

Entah apa yang membuat hati ku mengganjal saat ini, aku senang bisa melanjutkan hubungan ku dengan Eji, aku gak peduli Eji dewasa atau hanya sekedar anak kecil, tapi yang pasti Eji bisa ngerti aku.
Selasa besok Ijal pulang dari Bali, Perasaan senang, takut, bercampur menjadi satu dalam benak ku. Malam ini aku gak bisa memejamkan mata.

Aku berharap dapat menyambut kedatangan Ijal hari ini, tapi Eji terus mendesak ku untuk menemaninya membeli alat musik, membuat ku merasa bersalah pada Ijal. Ijal sempat menelfon ku, terdengar suara kecewa dari bibirnya, membuat ku merasa bersalah, dengan apa yang ku lakukan.
Ke esokan hari nya Eji kembali mengajak ku untuk mengunjungi Nenek nya. Hari ini aku ingin sekali bertemu Ijal. Tapi Eji terus memaksa ku, membuat ku mulai jenuh! Eji membawa ku menuju rumah Neneknya, nenek Ami terlihat sangat cantik dan anggun, Sopan juga rapi, membuat ku kagum akan apa yang di miliki nenek itu.

Eji meninggalkan ku sejenak untuk ke supermarket depan komplek. Aku pun berbincang dengan nenek. “ Kamu kelas berapa? Nenek dengar kamu kakak kelas Eji?” Jujur aku sedikit minder dengan pertanyaan yang di lontarkan nenek, “ Tenang aja, Eji udah cerita semuanya sama nenek. Eji memang selalu mengagumi wanita yang lebih dewasa dari usianya.” Aku sedikit kaget mendengar ucapan nenek, “ Maksud nenek? Bukannya saya pacar pertama Eji nek?” nenek pun menatap ku “ iya.. kamu pacar pertama Eji, dan nenek berharap kamu sabar!!” aku semakin heran dengan ucapan nenek. “ maksud nenek apa? Iva gak ngerti nek..” Nenek pun mulai bercerita, dengan lirih nenek menceritakannya, “ Sebenarnya Eji udah gak punya mama, Mama Eji meninggal saat Eji kelas 6 SD. Eji sangat terpukul, karena mamanya selalu memberi Eji kasih sayang, memanjakan Eji, Dan Eji selalu mencari wanita yang mirip dengan mamanya. Nenek udah bilang, Eji harus belajar buat ikhlas, tapi nenek gak bias buat Eji ngerubah pandangan hidupnya, Eji cerita sama nenek, kalau kamu mirip mamanya, kamu perhatian sama Eji, Ternyata sikap santun kamu memang mirip sama apa yang mama Eji punya, mungkin Eji butuh sosok mama, mungkin Eji kangen sama mamanya, tapi Nenek hawatir, eji selalu menganggap kamu sama seperti mamanya.” DEngan berlinang air mata nenek mencurahkan seluruh isi hatinya. “ Berarti kemungkinan Eji sayang sama Iva Cuma karena Iva mirip mamanya? Nek maaf, Iva juga ngerasa sekarang Eji beda, Eji egois dan manja.” “ Iva.. kalau kamu memang gak tahan sama semua sikap Eji, lebih baik kamu pergi, kasih Eji pengertian. Nenek yakin Eji dengerin semua ucapan kamu.”

Tanpa sadar ternyata Eji sudah berasa cukup lama di balik pintu, mendengarkan semua ucapan kami. Eji pun memotong pembicaraan kami dan berbicara, “ nenek.. kenapa nenek certain semuanya sama cewek yang Eji sayang? Nenek tega!!” “ nggak gitu Eji!!” nenek berusaha memberi Eji pengertian , tetapi Eji melakukan tindakan yang kasar dan berbicara kasar. Aku yang sudah geram dengan semua tingkah Eji pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah itu. Eji pun segera mengejar ku, “ kamu mau kemana?” Tanya Eji pada ku. “ Aku mau pulang, ternyata gini kamy yang sebenernya, kamu gak kasian sama nenek? Kamu tega ya.. oy 1 lagi, aku mau kita udahan. Eji.. aku tau aku Cuma bayabg-bayang mama kamu, tapi aku beda! Aku bukan mama kamu Ji. Aku bukan orang yang kamu saying, tapi aku Cuma ambisi kamu!” Aku tahu Eji bias dewasa, Eji hanya terdiam mendengarkan ucapan ku. Jujur aku gak tega, tapi ini untuk kebaikan Eji. Aku pun segera pergi menunggalkan Eji.

2 hari kemudian, aku bertamu dengan Ijal, perasaan ku sekarang sedikit lega! Aku senang Ijal gak marah sama aku, padahal aku tau aku salah. Ijal justru memberi ku sebuah kalung cantik yang berhiaskan kerang. “ ini buat kamu ! aku tau kenapa kamu gak temuin aku 3hari yang lalu.” Aku hanya diam “ aku udah tau semuanya.. Aku tau kamu punya pacar yang namanya Eji, aku juga tau kejadian 2hari yang lalu.” Dengan aneh nya aku mendengar ucapan Ijal, “ kok kamu tau?” Ijal pun mulai menjelaskan keherananku, “ sebenernya Eji itu Sepupu aku, aku yang minta dia masuk dalam kehidupan kamu, tujuannya buat jagain kamu selama aku sibuk sama semua kegiatan aku. Dan kemarin aktingnya udah selesai. Sebenernya, waktu itu aku juga ada di rumah nenek, itu juga nenek aku. Aku minta nenek buat Bantu aku. Hahaha,, hebat ya nenek aku, bias nangis.” Dengan ketidak percayaan ku aku mulai meresapi perkataan Ijal. “ Oh.. jadi kamu yang udah rencanain semuanya? Bagus!!!” awalnya aku sempat marah, Tapi aku luluh dengan karena saat itu, tiba-tiba Eji datang dan menjelaskan semuanya., dengan mendengar penjelasan Eji, aku pun lega.

Bahwa semua yang di lakukannya adalah untuk menjaga ku.. hehehe ternyata aku salah menilai Ijal dan Eji selama ini. Aku yakin sekarang, sangat yakin Ijal benar-benar mempunyai waktu luang untuk aku.. Dan setiap detik dalam waktu itu adalah berharga yang memberikan kita sebuah kedewasaan dan pengalaman.
PROFIL PENULIS
Nama : Endah Ayunda Sari
Saat ini saya mahasiswa di universitas muhammadiyah purworejo jurusan pendidikan Fisika. SMA asal saya SMA Taruna Andigha Bogor.

Baca juga Cerpen Remaja yang lainnya.
Share & Like