Cerpen Persahabatan Remaja - Vampire

VAMPIRE
Karya Lintang Putri Negari

Akhir-akhir ini berita menyeramkan merebak di lingkungan sekita rumahku. Sudah 8 mayat gadis remaja ditemukan dengan keadaan mengenaskan ditempat yang berbeda. Semua mayat itu mempunyai kesamaan, yaitu luka gigitan yang ditemukan pada leher mereka. Banyak warga mengira ini adalah perbuatan seseorang yang sedang menganut ilmu hitam dan mencari gadis remaja untuk dijadikan tumbal. Berita ini membuat banyak orang takut untuk keluar malam dan lebih memilih untuk berada didalam rumah.

Sejak beberapa hari lalu aku memperhatikannya. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi yang sedang mengamati rumahku setiap malam. Sudah tiga hari berturut-turut dia datang ke rumahku, entah apa yang sebenarnya yang dia cari.

Malam yang gelap dengan cahaya bulan yang menyinari pandangan. Dinginnya udara malam terasa menusuk tulangku. Suara jangkrik saling bersahutan dan terdengar seakan memecah kesunyian malam. Di tengah kesunyian malam aku berjalan menyusuri jalan yang gelap untuk menuju rumahku. Namun, betapa terkejutnya aku. Lagi-lagi kulihat pria itu sedang berdiri sambil mengamati rumahku. Dengan perasaan jengkel, aku pun segera menghampirinya.
“Maaf, sepertinya kalau aku lihat kau selalu datang ke rumahku. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku dengan sangat jengkel. Dia hanya menatapku lalu berpaling kembali. Sekilas, dapat kulihat warna matanya yang cokelat tua dan betapa dinginnya tatapan matanya.
“Maaf ya, apa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi?” tanyaku semakin jengkel. Dia menatap kulagi.
“Aku sedang mencari orang. Apa aku salah?” dia balik bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Siapa yang kau cari di rumahku?” tanyaku lagi.
“Oh jadi ini rumahmu?” tanyanya padaku.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Lalu dimana rumah keluarga Steve?” tanya pria itu lagi.
“Steve?” kataku bingung. “Sepertinya kau salah tempat. Atau mungkin Steve itu adalah penghuni rumah ini sebelum aku.” Jawabku.
“Benarkah?” pria itu nampak bingung. “Kalau begitu ya sudah, aku pergi dulu.” Katanya dengan cuek lalu pergi meninggalkanku. Aku heran padanya. Jujur saja, selama aku hidup, baru kali ini aku bertemu seseorang dengan sikap yang sangat dingin seperti itu. Meski merasa sangat jengkel, tapi aku berusaha melupakannya dan segera masuk ke dalam rumah.

Hari ini cuaca terlihat mendung. Gumpalan awan terlihat menutupi matahari. Aku terus memikirkan pria yang tadi malam. Bahkan aku tidak bisa berkonsentrasi kepada pelajaran yang diberikan guru di sekolah.
Seperti malam sebelumnya. Malam ini, pria itu kembali muncul di depan rumahku. padahal aku sudah mengatakan padanya kalau keluarga Steve tidak tinggal disini. Tapi kenapa dia masih datang juga?
“Kenapa kau datang ke sini lagi? Bukankah aku sudah bilang kalau keluarga Steve sudah tidak tinggal disini lagi?” tanyaku ketus.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu.” Jawabnya santai.
“Aku?” aku bingung. Padahal kemarin dia terlihat begitu cuek padaku. Tapi kenapa sekarang dia malah ingin bertemu denganku?
“Ya.” Kata pria itu sembari mendekatiku. “Namaku Zen.” Sambungnya sambil mengulurkan telapak tangannya.
“Aku Stevany. Kau bisa memanggilku Vany.” Jawabku sambil membalas uluran tangannya. Aku merasa kalau telapak tangan Zen sangat dingin. “Kenapa tanganmu sangat dingin?” tanyaku pada Zen.

Sesaat Zen nampak tersenyum. “Entahlah, aku juga tidak tau mengapa tanganku selalu terasa dingin. Mungkin karena aku kekurangan darah.” Jawabnya.
“Kau anemia?” tanyaku lagi. Tapi Zen hanya membalasnya dengan senyuman. “Sudahlah.” Kata ku sambil melepaskan tangan Zen. “Tapi kenapa kau ke sini hanya untuk menemuiku?”
“Rumahku tidak jauh dari sini, jadi aku hanya ingin mampir saja. Lagi pula aku juga ingin mencari teman.” Jawab Zen.
“Kalau begitu kita berteman saja!’’ seruku sambil menatapnya.
“Boleh juga.” Kata Zen.

Sejak malam itu aku dan Zen menjadi teman. Setiap malam ia selalu datang ke rumahku hanya untuk megajakku ngobrol. Walau dia mempunyai sikap yang sedikit dingin, tapi aku yakin dia orang yang baik. Karena itu aku menjadikannya sebagai temanku.

Bulan purnama memancarkan sinarnya setelah matahari tenggelam. Seperti hari biasanya malam ini Zen datang ke rumahku.
“Hai.’’ Sapa Zen saat berada di depan gerbang rumahku. “Kenapa kau berpakaian seperti itu? Apa kau sedang sakit?” tanya Zen bingung melihatku menggunakan pakaian tebal dan serba panjang.
“Entahlah, tapi aku hanya merasa kedinginan.” Jawabku sambil membuka gerbang.
“Kalau begitu kau istirahat saja. Aku akan pulang.” Kata Zen.
“Tidak perlu. Lagi pula saat ini aku merasa kesepian.” Aku berusaha mencegah Zen karena tidak ingin mengecewakkannya yang sudah datang kerumahku tapi harus langsung pulang hanya karena aku sakit. “Ayo masuk!” ajakku.
“Kau tau hari apa sekarang?” Aku menatap Zen sambil tersenyum tipis setelah kami duduk di teras rumah.
“Tentu saja hari kamis.” Jawab Zen dengan sangat yakin.
“Salah.”
“Lalu hari apa? Bukankah setelah Rabu hari Kamis?” tanya Zen bingung.
“Kalau itu aku juga tau. Tapi hari ini adalah hari ulang tahunku.” Jawabku kegirangan.
“Oh, benarkah? Kalau begitu aku ucapkan se…”
“Kak Vany!” teriak seorang gadis kecil dari luar gerbang. Saat kulihat, ternyata gadis kecil itu adalah Putri anak tetanggaku.
“Ada apa?” aku menghampirinya.
“Putri disuruh minta bawang sama mama. Soalnya dirumah Putri bawangnya sudah habis.” Ujar gadis kecil itu dengan wajah polosnya yang manis sambil mengulurkan sebuah mangkuk kecil yang ia bawa dari rumah.
“Tunggu sebentar ya, biar kak Vany ambil.” Jawabku sembari mengambil mengkuk itu dari tangan mungil Putri. Setelah itu, aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil bawang yang ada di dalam kulkas.

Tak lama kemudian, aku keluar dari rumah sambil membawa mangkuk yang telah berisi bawang. Zen nampak heran saat melihatku yang sedang menutup hidung. Apalagi saat Zen melihat wajahku yang nampak semakin pucat, ia terlihat khawatir.
“Kak Vany sakit ya?” tanya Putri sambil memperhatikan wajahku.
“Iya, sepertinya saat ini kakak sedang tidak enak badan.” Jawabku sambil memberikan mangkuk yang kubawa pada Putri.
“Makasih kak Vany. Putri pulang dulu, ya.” Kata Putri sembari berjalan menuju rumahnya.

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Aku merasa sangat haus. tanpa sadar, aku menarik tangan Putri dengan cepat. Rasanya aku ingin menggigit lehernya untuk menghisap darah Putri agar rasa hausku hilang. Putri terlihat sangat takut, namun aku tidak memperdulikannya. Yang aku fikirkan hayalah aku harus menghisap darahnya untuk diminum.
“Vany, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat kalau perbuatanmu membuat anak ini menangis?” tanya Zen. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku terus berusaha menggigit leher Putri yang saat itu berusaha melawan untuk melepaskan diri. Melihat itu, Zen segera menarik Putri hingga membuatnya lepas dari genggamanku. Setelah berhasil lepas gadis kecil yang ketakutan itu segera berlari menuju rumahnya sambil menangis.
“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa melakukan hal ini?” tanyaku yang tak percaya dengan apa yang telah kulakukan.

Tiba-tiba, Zen menarik lalu menggigit tanganku. Dapatku rasakan rasa sakit yang luar biasa saat Zen menggigit tanganku. Karena tak kuat menahan sakit, aku berusaha menarik tanganku.
“Kaulah orang yang ku cari selama ini.” Ujar Zen dengan bibir berlumur darah setelah melepaskan tanganku dari gigitannya.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung sembari menahan rasa sakit.
“Kau adalah keturunan dari keluarga Steve yang aku cari selama ini. Dan malam ini juga, aku akan mambunuhmu untuk menghilangkan kutukan yang ada dalam diriku.” Jawab Zen dengan wajah yang menyeramkan.
“K-kenapa k-k-kau ingin membunuhku? ” tanyaku yang mulai merasa takut.
“Karena ayahmu yang seorang vampir origin yang memberiku kutukan hingga aku harus menjalani menjadi hidup sebagai vampir outcast.” Ujar Zen.
“V-vampir?” Gumamku dalam hati karena tidak mengerti dengan kata-kata Zen.
“Apa kau tau rasanya menjadi vampir outcast? Rasanya sangat tersiksa. Aku tidak bisa lagi berjalan di bawah sinar matahari dan selalu lapar dan haus darah manusia. Dan yang lebih parah lagi, tubuhku akan rusak jika tidak meminum darah manusia.” Jelas Zen.
“Jadi kau yang membunuh para remaja wanita?” aku menduga-duga.
“Ya, kau memang pintar. Tapi sudah terlambat untuk menyadarinya.” Kata Zen. “Tapi kau tenang saja, karena malam ini, semuanya akan berakhir jika aku membunuh keturunan terakhir keluarga Steve. Dan orang itu adalah kau Vany.” Sambungnya lagi. Tiba-tiba Zen mengeluarkan sebuah pisau berbentuk salib yang dibalut dengan kain berwarna biru tua yang telah kusam.
“A-apa itu?” tanyaku dengan bibir dan tangan yang terasa bergetar.
“Ini? Ini adalah pisau yang dibuat khusus untuk membunuh bangsa vampir. Dan aku yakin pisau ini juga mampu membunuhmu.” Jawabnya sambil mengarahkan pisau itu kearahku.
“Berhenti!” teriakku berusaha menghentikan pisau yang mengarah padaku.
“Tenang saja Stevany, ini tak akan terasa sakit.” Kata Zen dengan wajah marah sekaligus senang. Ia terus mengarahkan pisau itu hingga ujung pisau itu mendekati dadaku. “Selamat tinggal Stevany.” Ujar Zen sambil tersenyum menyeramkan.
“Tidak!” teriakku sembari mancoba menangkis serangan Zen. Tanpa sengaja aku mengarahkan pisau itu ke arah Zen hingga mengenai bagian perutnya hingga menusuknya. “Ma-maafkan aku.” Kataku dengan sangat menyesal.

Zen nampak sangat marah. Namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi seperti semula seperti Zen yang aku kenal sebagai temanku selama ini. “I-ini b-bukan salah mu. A-aku-lah y-yang salah. L-l-lgi pula, k-kau j-juga t-telah mem-b-bebaskan a-aku d-dari kutukan walau pada akhirnya akulah yang mati.” Jawab Zen dengan suara yang terputus-putus.

Tubuh Zen terlihat seperti keras yang terbakar. Perlahan tubuhnya berubah menjadi abu. “Terima kasih karena pernah menjadi teman ku." Kulihat wajahnya memancarkan senyuman dengan tulus hingga akhirnya benar-benar menghilang. Yang tersisa hanya abu yang kini bertaburan bagaikan salju.

~TAMAT~


Share & Like