Tepi Jalan Kenangan - Cerpen Sedih

TEPI JALAN KENANGAN
Karya Maria Ulfa

“Rana, nanti siang sesudah dzuhur kau ada acara tidak?” Tanya sesorang dari sebrang telephon. Rana, si gadis berwajah manis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, “Acaraku sesudah dzuhur, Aku akan bertemu Allah.” Jawab Rana.
“Kenapa?” tanya suara itu lagi dari sebrang.
“Awalnya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Tapi tak apalah jika kau tak bisa. sudah dulu yah.” tutup si penelepon dengan nada kecewa.
Rana melempar Hp nya asal, begitu saja. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Batinnya.
“Sebenarnya apa itu, bertemu Allah.” Gumamnya dengang senyum kecut.
***

Rana mengawali rutinitas minggu itu dengan berdiri dilapangan untuk upacara bendera, dilanjutkan dengan berdiam diri di kelas dari pagi hingga siang untuk sesuatu yang dinamakan, belajar.
Bel sekolah pun berbunyi tepat pukul dua siang. Rana merapikan buku-bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. “Rana!” panggil seseorang dari bibir pintu kelas. Rana menoleh. Didapatinya, Mita si gadis berkerudung yang kemarin meneleponnya. Rana meraih tasnya dan bergegas menghampiri Mita, lalu mereka berjalan beriringan. “Ada apa? sebegitu pentingkah acara kemarin hingga kau cepat-cepat datang ke kelasku?”

Mita mendengus, “Sebenarnya kemarin aku ingin memperkenalkanmu pada guru Agamaku yang baru.” Ucap Mita. “Rana!” pekik Mita tepat ditelinga Rana. “Dia sangat, sangat tampan!” ucapnya histeris. Mita terus bercerita tentang guru agama yang bernama Fauzan. Seorang penulis dan pandai agama. Buku terbarunya berjudul Syukur. Entahlah buku yang seperti apa. Rana yakin buku itu sangat membosankan.
“Aku harus pergi sekarang.” Pamit Rana ketika sampai dipintu gerbang.
“Buru-buru sekali? Memangnya kau mau kemana?” tanya Mita heran.
“Bertemu Tuhan.”
***

Rana berdiri ditepi jalan, menunggu mobil angkot yang akan langsung membawanya ke rumah. tapi keinginan Rana untuk cepat-cepat pulang, dihalangi dengan sebuah rasa penasaran yang teramat. Tanpa sengaja pandangan matanya melihat dua orang lelaki berwajah sangar sedang mendekap seorang lelaki. Sepertinya kedua lelaki itu berandalan. Dan lelaki itu adalah seorang pengamen. Rana yakin dua berandal itu memaksa si pengamen jalanan untuk mengikuti mereka memasuki sebuah gang buntu yang ada disebrang jalan. mungkin pengamen jalanan itu akan dianiya oleh kedua lelaki sangar tadi, atau mungkin mereka sedang melakukan transaksi obat-obatan terlarang. Rana benar-benar ingin tau apa yang sedang mereka lakukan. Ia pun meninggalkan tujuan awalnya untuk segera pulang. Ia bergegas menyebrangi jalan yang kebetulan lengang itu. Rana melangkah perlahan, ketika dirinya telah dekat dengan gang buntu dan gelap itu. ia mendengar suara-suara ribut dari dalam. “Mana uangnya!” bentak salah satu dari mereka dengan pekikan keras.
“Hari ini sama sekali tak ada uang.” Suara lembut itu menjalar ke daun telinga Rana.
Salah satu dari kemungkinan-kemungkinan yang bertebaran bagai debu halus diotak Rana benar-benar terjadi. Ternyata kedua lelaki itu sedang mencoba merampas uang si pengamen. Karena tak tega dengan nasib si pengamen, Rana yang awalnya berdiri dibalik tembok sambil mengintip, memberanikan diri untuk berdiri tepat ditengah jalan masuk gang itu.
“Hei! Kalian sedang apa??” tanya Rana lantang membuat perhatian lelaki-lelaki itu terfokus padanya. Tepat ketika lengah, si pengamen itu tiba-tiba bergegas lari, meraih lengan baju panjang Rana, membuat Rana ikut berlari dengan si pengamen.

Cukup lama Rana ikut berlari dengan si pengamen tanpa ada tujuan yang jelas. Hingga si pengamen menghentikan larinya. Napas Rana langsung berpacu cepat, Rana butuh beberapa menit untuk mengatur napasnya agar kembali seperti semula.
“Apa kau sudah gila? Kenapa kau membawaku lari bersamamu?” gerutu Rana kesal.
Si pengamen itu menoleh kearah Rana, menatap sesaat lalu menunduk. “Maaf. Jika aku tak menarik lengan bajumu, kau yang akan menjadi sasaran selanjutnya.” Untuk kedua kalinya suara lembut itu kembali menyelusup ke daun telinga Rana.Suara yang sangat menenangkan hatinya.
“Oh yah, terima kasih karena kau telah menjadi super hero kali ini.” ucapnya seraya tersenyum simpul. Lalu ia melangkah pergi begitu saja.
Rana masih berdiri di tempat yang sama, melihat punggung lelaki itu menjauh, melangkah di jalan yang lengan.
Tapi kenapa lelaki itu tidak menyebrang? Kenapa ia malah berdiri di tengah jalan, apa ia tak takut ada mobil yang menabraknya? Batin Rana. Terakhir ia liat lelaki itu memungut sesuatu di tengah jalan, dan membawanya pergi begitu saja.
***

Rana menunggu mobil angkot di tepi jalan yang sama dengan kemarin. Tepi jalan yang mempertemukannya dengan lelaki berumur 20 tahunan itu. Pengamen. Rana yakin lelaki itu adalah seorang pengamen, karena tak jauh dari tempat Rana berdiri ada pertigaan lampu merah, tempat dimana pengamen biasanya dengan mudah ditemukan.
Tapi, kenapa Rana masih memikirkan si pengamen itu? siapa pengamen itu hingga berani memenuhi isi kepala gadis manis itu? lagi pula kenapa ia harus memikirkannya? Rana meyakinkan dirinya jika pertemuan mereka hanya kebetulan. Dan kebetulan tidak akan terjadi dua kali. Sebuah angkot biru dengan dua orang penumpang didalamnya, berhenti dihadapan Rana. Seharusnya Rana segera naik angkot itu, tapi kenapa ia malah diam terpaku di tempatnya. Menatap lurus angkot itu, namun enggan naik ke dalamnya. Rana menggerakkan kakinya, melangkah, kemudian-ia berlari! Berlari meninggalkan angkot biru itu untuk menyebrangi jalanan yang lengang. Hey! Kenapa ia berlari? Ada apa dengan gadis itu?

Rana melangkah perlahan mendekati gang yang sama dengan kemarin. Berdiam diri dibalik tembok, dan mencoba berkonsentrasi. Berharap ia dapat mendengar percakan dari dalam sana.
“Kau berani pada kami?” bentak salah seorang dari mereka.
“Kau fikir aku takut padamu?” jawab suara lainnya. suara yang lembut dan membuat hatinya terasa nyaman. Rana yakin lelaki itu ada di dalam sana. “Sama sekali tidak.” Tambahnya.
“Yang kutakuti Hanya Allah. Tuhanku!” seru lelaki itu.
Darah Rana mendesir mendengar kata itu. Hatinya bergetar hebat. Baru pertama kalinya ia merasa takut. Yah, ia merasa takut mendengar kata yang lelaki itu ucapkan. Tapi, ia juga merasa ada sebuah nikmat yang menjalari tubuhnya. “Lagi, ucapkan lagi,,” pinta suara yang ada dalam sudut hatinya. “Cukup! Cukup sekali kau mendengarnya, dasar manusia serakah!” bentak suara dari sudut hatinya yang lain.
“Kau ingin MATI yah??” bentak salah satu berandal dari gang buntu itu, membuat Rana terbebas dari pertikaian hebat yang berkecambuk dihatinya. Ia harus bertindak. Tapi bagaimana? Menggunakan cara konyol seperti kemarin. Ah! Sudahlah!
***

Untuk kedua kalinya, ia berlari di hari yang terik. Sendiri? Tidak ia tak sendiri. Lelaki itu bersamanya. Gadis itu sadar betapa bodohnya ia. Ia telah melakukan hal gila yang sama untuk kedua kalinya. Sok menjadi super hero di depan para berandal untuk menyelamatkan lelaki yang tak dikenalnya. Landasan teori apa yang membuatnya seperti itu? rasa kemanusiaan kah? Hah. Entahlah.
Lelaki itu memperlambat gerak kakinya, dan akhirnya berhenti di depan sebuah taman kota yang sedikit pengunjung siang itu. Karena telah berlari cukup lama, mereka pun memutuskan beristirahat dengan duduk disalah satu kursi panjang yang ada disana.
“Kenapa kau tak memberikan uangmu pada mereka?” tanya Rana kesal.
Lelaki itu menatap Rana sesaat, tersenyum simpul, lalu menatap langit. “Dia sudah memberikannya padaku. Jadi aku harus menjaganya.”
“Jadi kau benar-benar ingin dihajar para berandalan itu hingga kau mati?”
“Dia telah mempercayakan tubuh ini padaku. Jadi, aku akan melindunginya.” Rana menatap heran siluet wajah lelaki itu.
“Tapi kau tak bisa mempertahankan keduanya sekaligus.” Ujar Rana.
“Bisa. Dia telah mempercayakannya padaku. Jadi aku harus bisa menjaganya hingga waktunya semua itu akan diminta kembali.” Sebuah jawaban yang terdengar bijak, namun sulit dimengerti. Hanya manusia-manusia hebat yang tau maksud tersembunyi lelaki itu. Dan saat itu Rana sama sekali tak termasuk ke dalamnya.
“kau selalu bilang ‘DIA’. Sebenarnya siapa?” tanya Rana, berharap dengan bertanya ia akan mengerti ucapan lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum, bukan pada Rana, tapi pada langit, atau mungkin sesuatu yang ada dilangit. Entahlah. Lelaki itu menggerakkan tangannya. Mengacungkan jari telunjukanya ke atas. Karena benar-benar ingin tau maksud lelaki itu, Rana ikut mendongak, mengikuti arah yang lelaki itu tuju. Langit.
“Kata-katamu rancu, aku tak dapat mengerti apa maksudmu?” tanya Rana yang semakin tak mengerti.
Lelaki itu tersenyum simpul. Senyum yang lagi-lagi diarahkan ke langit. Lalu berkata, “Kau akan mengerti, jika kau percaya.” Lelaki itu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk celana jeansnya yang kumal, berharap tindakannya dapat sedikit menghilangkan kesan kumal dicelana itu. Seraya berkata, “Oh ya, rambutmu indah. Dia memberikannya padamu agar kau menjaganya. Jagalah rambut itu dari tatapan-tatapan jahat. Seperti tatapan mataku.” Ujarnya . “Aku harus pergi. Dia akan marah jika aku terlalu lama bersamamu disini.” Ucapnya sambil berbalik badan lalu melangkah pergi. Rana masih terpaku dalam duduknya karena fikirannya masih berkutat dengan sebuah pertanyaan besar,
Apa maksud lelaki itu? Dan kenapa ia bilang tatapan matanya itu jahat? Padahal dia sama sekali tak pernah menatapku ketika berbicara. batin rana.
Pandangannya masih terus menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh, beberapa kali lelaki itu berhenti. Memungut sesuatu yang entah apa, hingga ia pun hilang di balik rimbun pohon.
“Kau telah mempertemukanku kembali dengannya. Terima kasih.” gumam lelaki itu.
***

Rana melangkah menyebrangi jalan yang tak terlalu ramai itu, setiap langkah yang ia lakukan selalu bertambah lebar dan cepat. Dan tanpa ia sadar, ia berlari. Seorang sosok lelaki berpakaian rapi berdiri di atas trotoar. Tangannya melambai-lambai pada sosok gadis manis berseragam SMA yang berlari kearahnya.
“Rana! Kau tak perlu berlari. Lagipula aku takkan kabur kemana pun.” Goda lelaki itu dengan suara lembutnya, ketika gadis manis itu ada dihadapannya. Gadis itu tampak heran dengan gurauan lelaki itu.
“Berlari? Aku sama sekali tak berlari.” Sahutnya. Lelaki itu hanya tersenyum.
“Oh ya. Kemana dua berandal yang selalu mengawalmu?” tanya Rana mengalihkan pembicaraan.
“Entah. Aku sama sekali tak bertemu mereka.” Jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Rana yang dijawab dengan anggukan.
“Kau harus janji, akan menjawab pertanyaanku dengan jelas. Tidak rancu seperi kemarin.” Tambah Rana, lelaki itu kembali mengangguk.
“Emh, apa yang kau pungut setiap kali kau pergi setelah bertemu denganku? Dan kenapa kau tak pernah menatapku ketika berbiacara?”

Lelaki itu tersenyum, “Hanya menyingkirkan sesuatu yang tidak disukai oleh DIA.”
“Bukankah kau sudah janji tidak akan menggunakan bahasa yang rancu?” gerutu Rana. “Ayolah. Jawab dengan menggunakan bahasa yang sederhana.” Pinta gadis itu.
“Sekarang jam berapa?” tanya lelaki itu dengan tampang serius.
“Apa kau sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan?” Rana mendengus kesal sambil melirik jam yang ada ditangannya. “jam 15.21.” jawab Rana, membuat lelaki itu sangat kaget.
“Aku harus segera pergi. Jika tidak pergi sekarang aku akan terlambat.” Pamitnya.
“Tunggu!” entah karena apa Rana tiba-tiba mencegahnya.
“Emh, kau akan pergi kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Bertemu kekasihku. Aku akan bercinta dengannya menggunakan seni yang sangat indah bukti syukurku pada-Nya karena telah memberikanku berjuta keindahan.” Jawabnya.
“Aku pergi!” serunya pamit seraya melangkah pergi.
Kekasih? siapa? Siapa yang mampu mendapatkan hati lelaki itu. sebegitu hebatnya kah gadis itu hingga lelaki itu merasa diberi berjuta keindahan olehnya. Ah! Tak penting. Pasti lelaki itu sangat mencintainya hingga ia sama sekali tak ingin terlambat sedetik pun. Siapa? Siapa? Siapa? Rana benar-benar penasaran, hingga akhirnya muncullah ide aneh di benaknya.
***

Rana menjalankan ide anehnya, yakni membuntuti lelaki itu. Landasana teori apa hingga ia berani bertindak seperti itu? Rasa penasaran, hanya rasa penasaran. Rana menjaga jarak sejauh 3 meter dari lelaki itu agar tak ketahuan. Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya lelaki itu menghentikan langkahnya, ia melepas sandal gunung tua dan masuk ke tempat itu. Rana yakin disanalah mereka akan bertemu, di dalam sebuah,,, masjid?
Hey! Apa mereka sudah gila? Mereka betemu di dalam masjid, sebuah tempat suci pemeluk agama Islam. Tunggu. Hamh, mungkin saja kekasihnya adalah seorang gadis yang sangat alim, dan mereka akan mengaji bersama di dalam sana.
Lima menit Rana menunggu, namun tak ada sosok gadis yang masuk kedalam masjid, hingga adzan ashar berkumandang. Lantunan indah dari suara lembut itu merambat di daun teling Rana, menyelusup kedalam tubuh, membuat sebuah sensasi indah yang entah apa. Suara lembut itu? Rana yakin milik lelaki itu!
Setengah jam setelah kumandang adzan berakhir, sama sekali tak ada tanda-tanda seorang gadis yang mendatangi masjid. Ya ampun! Kenapa Rana sama sekali tak menyadarinya. Bisa saja gadis itu sudah ada didalam sebelum lelaki itu datang bukan? Kenapa ia sama sekali tak menyadari? Dengan menyesal, Rana memutuskan untuk pulang.

Ada seseorang yang memandang punggungnya. “Rana!” orang itu memanggilnya. Rana menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok lelaki itu mendekatinya. Rana berdiri kikuk, seperti seorang tersangka yang ketauan melakukan tindak kriminal.
“Kenapa kau ada disini?” tanya lelaki itu lembut seperti biasa.
“Emh, oh yah, lantunan adzan yang indah.” Ucap Rana basa-basi kikuk.
“Terima kasih.” Ucapnya.
“Bagaimana pertemuanmu dengan sang kekasih?”
“seperti biasa. Terasa sangat indah.” Rana terlihat sangat kecewa mendengarnya. “Kenapa kau tak bertemu dengan kekasihmu juga?”
“Hah? Dia, tak ada disini. Lebih tepatnya aku tak punya.” Jawab Rana terbata-bata.
“Heyy! Apa maksudmu? kekasihmu dan kekasihku selalu ada disekitar kita. Dia melihat kita. Ia sangat suka jika kita bercinta dengannya dengan seni yang sangat indah. Dan disaat bercinta itulah dimana kita ada dalam jarak yang sangat dekat.” Ucap lelaki itu menjelaskan.

Rana menatap lelaki itu tak mengerti. Bagi gadis itu, semua kata-kata lelaki itu sangat,, sangat rancu!!
“Hey. Tunggu apa lagi. Dia melangkah 10 kali jika kau mendekatinya 1 langkah. Dia berlari jika kau mendekatinya beberapa langkah.” Ucap lelaki itu, membuat Rana semakin tak mengerti.
“Sebenarnya apa yang harus kulakukan?” Tanya Rana pasrah.
“Masuk ke dalam dan Sholat.”
Mata Rana membulat seketika. Bagaiman mungkin lelaki itu menyuruhnya solat, sementara ia seorang, “Protestan. Agamaku, Protestan.”
***

Rana menyusuri setiap rak buku yang ada di toko buku siang itu. Mencari-cari buku bertemakan sama. Islam. Tujuh buah buku bertema Islami yang ia beli menggunakan uang tabungannya. Seminggu yang lalu lelaki itu mengajaknya sholat tanpa tau jika ia bukanlah seorang muslim. Dan semenjak saat itu ia tak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Setiap ada waktu senggang ia membaca buku-buku panduaan Islam itu dengan tekun. Mempelajari ilmu-ilmu agama yang bukan agamanya. Gadis itu miskin ilmu agama, ia seorang protestan, tapi tak pernah mempelajarinya. Sering bolos di pelajaran agama protestan membuatnya semakin miskin ilmu agama. Tuhan itu apa? Ia sama sekali tak tau. Yang jelas ia sering menolak ajakan temannya untuk pergi ketika libur dengan alasan “bertemu Allah”
***

Tiga minggu berlalu setelah kejadian itu. Di hari ke dua puluh satu itu Rana membaca halaman terakhir buku berjudul “Syukur” yang merupakan buku ketujuh yang ia beli. Penulis buku itu bernama Fauzan. Lelaki yang merupakan guru ngaji sahabatnya, Mita. Ia tau karena Mita pernah menunjukkan buku yang sama. Buku itu sangat menakjubkan. Setiap katanya begitu indah dibaca, menyerap kedalam hatinya. Dua paragraf akhir yang disampaikan penulis adalah untaian kata terindah yang pernah ia baca.
“Allah sangat suka keindahan. Keindahan ini biasa disebut seni oleh manusia. Bersyukur termasuk seni. Kenapa? Karena ketika kita bersyukur, kita akan merasakan kenikmatan yang sangat indah. Kita dapat mewujudkannya rasa syukur kita dengan cara bercinta dengannya. Allah itu kekasihku, kekasihmu, dan kekasih semua makhluk hidup. Jadi bercintalah dengannya! “
“Cara bercinta dengan Allah yang paling awal adalah, sadar jika Allah selalu melihatmu, ia memperhatikanmu, ia sangat senang bila kau mengingat-Nya, dan ia akan sangat murka jika kau lupa pada-Nya. Kedua, kau sadar jika semua yang kau miliki adalah titipan Allah. Dia mempercayakan semua itu padamu, semata-mata hanya agar seorang muslim bersyukur padanya. Jagalah kepercayaan-Nya. Seni bercinta dengan Allah yang paling indah adalah dengan sholat. Karena ketika sholat, disaat itulah kau berada sangat dekat dengan Allah. Ketahuilah, ketika kau satu langkah mendekati Allah, Allah mendekatimu 10 langkah. Ketika kau mendekati Allah beberapa langkah, Ia mendekatimu dengan berlari. Lalu kerjakan semua hal yang ia perintahkan.”
Rana mematung dalam diam, tanpa sadar bulir air mata mengalir di pipinya. Darahnya mendesir hingga ke ubun-ubun, dadanya bergemuruh bagai ada longsor hebat terjadi disana, hatinya bergetar hebat, menggetarkan seluruh syaraf yang ada di bibir, telinga, mata, tangan dan seluruh tubuhnya. Dari bibir yang bergetar itu terucap sebuah kata yang indah. “Allah.”
***

“Rana apa kau bisa ikut denganku?” tanya Mita ketika sampai dipintu gerbang sekolah.
“Aku harus segera pulang.” tolak Rana dengan halus.
“Sebentar saja. Guru mengajiku ingin sekali bertemu denganmu. Kumohon.” Pinta Mita.
“Guru mengajimu? Aku sama sekali tak kenal dengannya.” Kata Rana heran.
***

Disanalah Rana sekarang bersama Mita menunggu seseorang. Di tepi jalan, tempat biasa ia menunggu angkot. Setelah beberapa kali Mita memohon, ahkirnya Rana menyetujui pertemuan dengan guru ngaji itu, yang juga seorang penulis buku yang berjudul syukur.
“Itu dia!” seru Mita loncat-loncat kegirangan seraya mengarahkan jari telunjuknya ke sebrang jalan. Rana mengikuti arah itu. Didapatinya sosok seorang lelaki yang cukup membuatnya tercengang. Sosok yang biasa ia liat mengenakan celana jeans lusuh dan penampilan kumal, kini mengenakan kemeja putih panjang dipadu dengan celana bahan hitam. Penampilannya, berubah 180⁰. Dia terlihat sangat rapih dan bersih. Lelaki itu melambaikan tangan. Ingin rasanya Rana melangkah kesana, lalu berlari tanpa ia sadari seperti yang ia lakukan tiga minggu lalu. Namun Mita langsung mencegahnya. Mita bilang lelaki itulah yang akan menghampirinya. Akhirnya Rana memutuskan untuk sabar menanti, hingga jalanan ramai itu, sepi kendaraan.
Akhirnya jalan itu sepi setelah penantian selama tiga menit yang terasa setahun. Lelaki itu melangkah membelah jalanan, hingga sampai saat di tengah jalan, ia memandang sesuatu yang tergeletak disana lalu memungutnya. Dari arah barat ada sebuah truk kontainer melaju dengan cepat, jaraknya, semakin dekat dengan lelaki itu.
Di tepi jalan itu, Rana melihatnya. Hatinya tercabik, ingin rasanya ia berlari ketengah jalan itu dan menghempaskan semua yang ada selain lelaki itu. Tapi berapa banyak waktu yang Rana butuhkan untuk menghempaskan yang ada disana? Satu menit? Atau dua menit? Entahlah. Yang jelas truk itu hanya butuh sepersekian detik untuk melindas apa saja yang ada di hadapannya.
***

Seorang wanita berjilbab berdiri di tepi jalan yang sama sewaktu ia menunggu angkot untuk pulang ketika 10 tahun silam. Ia ingat ketika itu ia masih belum mengenakan jilbab. Di tepi jalan itu, ia bertemu dengan lelaki itu. Matanya tak dapat lepas dari sosok itu, meski terhalang angkot yang berhenti dihadapannya. Lelaki itu telah mengubah hidupnya. Lelaki itu yang mengenalkannya pada Tuhan, lelaki itu membuatnya ingin tau apa itu Tuhan. lelaki yang mengajarkannya betapa pentingnya menjaga pemberian Tuhan sebagai rasa syukur seorang hamba. Awalnya lelaki itu mengajarkannya dengan bahasa yang sama sekali tak ia menengerti. Bahasa tingkat tinggi! Yang hanya bisa dicerna oleh segelintir orang.
Di tepi jalan itu juga, ia berpisah dengan lelaki itu.
***

“Hari,, ini aku,, akan menjawab,, pertanyaanmu.” Lelaki itu tergeletak di tengah aspal yang dibanjiri cairan kental berwarna merah. Kemeja putih lelaki itu berubah merah. Bukan karena pewarna, tapi karena darah lelaki itu. Bulir air mata Rana mengalir deras.
“Berhentilah bicara. Sebentar lagi ambulance datang.” Pinta Rana pilu.
Lelaki itu menggerakkan tangannya perlahan, susah payah menahan rasa sakit. Dilihatnya sebuah benda di tangan yang berlumuran darah itu. didapatinya sebuah plastik, lebih tepatnya sampah plastik bekas makanan. “Allah memberikan alam ini,, aku,, harus menjaganya.”
“Aku,, takut jika menatapmu, aku,, akan lupa, jika kekasih sejati,, ku adalah,, Allah.” Hati Rana bagai tersiram air hujan, keinginan hatinya untuk mendengar kata Allah dari bibir lelaki itu terwujud. Tapi dalam keadaan memilukan seperti ini. Pantaskah ia berbahagia? Egoiskah ia?
Air mata Rana semakin tak dapat terbendung.
Lelaki itu bersusah payah mengucapkan “Lailahailaulah.” Hingga akhirnya ia menutup mata menuju alam lain. Meski matanya tertutup, lubuk hatinya masih bersua, “Terima kasih Allah. Kau memberiku napas hingga aku mememenuhi janjiku. Terima kasih karena kau memberikanku limpahan nikmat yang tiada tara selama hidupku.”
***

Wanita berjilbab itu menitikkan air mata mengingatnya. “Rana.” Panggil lelaki yang mengenakan kemeja putih yang sedang bergandengan tangan dengan anak kecil berumur lima tahun. Lelaki itu adalah Dimas, suami Rana. Dan anak kecil itu adalah Fauzan, anaknya. Dilihatnya Fauzan memungut sesuatu yang ada di pinggir jalan, lalu memasukkannya kedalam tong sampah yang ada disana.

Rana tersenyum melihat tingkah jagoannya. Begitu mirip dengan seseorang. Seseorang yang memberi tahunya, bahwa Tuhan telah memberikan berjuta nikmat untuknya. Termasuk udara yang ia hirup setiap harinya. Itu hanya satu dari jutaan debu kenikmatan yang Ia berikan. Kenikmatan yang terasa paling indah adalah ketika pertemuan dan perpisahan di tepi jalan ini. “Terima kasih Allah. Karena kau telah mempertemukanku dengan Fauzan, lelaki itu.” Rana melangkah beriringan dengan keluarga kecilnya, menuju masjid tempat paling suci dalam agamanya. Islam. sebuah nikmat yang takkan terbalas dengan berjuta rasa syukur. Nikmat Islam.

PROFIL PENULIS
Nama saya Maria Ulfa. seorang pelajar biasa yang suka membuat gambar tak jelas, dan tulisan yang sama tak jelasnya. sekarang masih duduk anteng di bangku kelas XI, SMA KORNITA IPB BOGOR.
 No. Urut : 33
Tanggal Kirim : 25/11/2012 10:19:16
Baca juga Cerpen Sedih yang lainnya.
Share & Like